Mengenang Tino Saroengallo (1958-2018): di Balik Dokumenter Mei ’98

Editor’s Note: Aktor, produser, serta sutradara film Tino Saroengallo meninggal dunia pada Jumat (27/7) pagi di usia 60 tahun. Untuk mengenang karyanya, terutama film dokumenter yang merekam detik-detik peristiwa Mei 1998, IDN Times kembali memuat hasil wawancara eksklusif kami dengan Tino pada Maret 2018 lalu.

Artikel ini pertama kali terbit pada 12 Maret 2018

Minggu (4/3), IDN Times berkesempatan menemui Tino Saroengallo di kediamannya. Sosok Tino terkenal sebagai sutradara film, aktor, dan jurnlis. Beberapa film yang pernah ia buat dan lakoni seperti Eat, Pray, Love (2010), The Philosopher (2013), Quickie Express (2007), dan Night Bus (2017).

Namun, yang membuat namanya meroket adalah karya film dokumenternya berjudul Student Movement in Indonesia: They Forced Them To Be Violent (2002). Sebuah karya yang menampilkan sudut pandang mahasiswa dalam aksi pergolakan menurunkan Presiden Soeharto, yang dikenal dengan Tragedi Jakarta 1998. Kamu bisa menyaksikan film ini di YouTube yang diunggah Tino sendiri.

IDN Times mencoba menggali bagaimana Tino membuat film tersebut hingga film lainnya seperti ‘Setelah 15 Tahun…’ dan ‘Pantja Sila: Realita dan Cita-cita’. Simak percakapan eksklusif kami berikut ini.

Mengenang Tino Saroengallo (1958-2018): di Balik Dokumenter Mei '98

1. Film itu Anda sendiri yang merekam? Menggunakan kamera apa?

80 Persen punya saya sendiri. Kameranya macam-macam, yang penting bisa untuk rekam.

2. Berarti ada yang 20 persen lagi itu bukan milik Anda, Anda membeli atau bagaimana?

Itu punya teman. Karena mereka tahu, temen-temen tahu ketika saya buat film itu saya kaya orang…, saya terus maksa walau pun gak ada duit seperak pun. Tapi dengan catatan kita punya gentlemen agreement kalau footage Student Movementfootage ‘Setelah 15 Tahun…’ itu memang saya gak bisa jual.

Misal Anda butuh footage, saya akan bilang ‘Silakan lihat di YouTube, cek footage mana yang mau dipakai? Itu punya saya atau bukan. Karena saya dapat izin dari temen-temen footage, itu hanya boleh saya pakai di film saya, bukan film orang lain. Apalagi yang kita punya antar temen. Kita gak punya banyak antar teman, tapi apa iya lu mau sia-siain kepercayaan itu.

3. Saat itu Anda sedang bekerja atau melakukan apa?

Waktu itu saya temenin ARD TV, TV Jerman. Tadinya kan saya sebetulnya cuma (wartawan) tulis, cuma fixer (istilah pembantu jurnalis asing) mereka (ARD TV). Saya cocok sama mereka dan mereka mau mendengarkan versi Indonesia. Gak cuma kesimpulan mereka aja.

4. Dari meliput bersama ARD TV itu, apa yang membuat Anda memutuskan merekam aksi mahasiswa? Apa yang sebenarnya mendorong Anda?

Berangkat dari situ saya sering ke lapangan kan. Saya jadi berpikir ‘selama 32 tahun saya dibohongi terus’. Jadi kalau kamu lahir atau besar di era Orde Baru kadang kita ketemu orang yang bilang ‘Eh gue angkatan 45, gue angkatan 66’ gitu. Kalau buat saya, bagi saya lu bisa ngaku siapa aja.

Mengenang Tino Saroengallo (1958-2018): di Balik Dokumenter Mei '98

5. Anda pernah mengalami hal tidak menyenangkan dengan mereka yang menyebut diri angkatan 45 atau 66?

Saya pernah berdebat dengan seorang lawyer waktu jadi salesman. Dia bilang ‘gue angkatan 45, kalian generasi manja. Kebetulan yang jualan teman, saya duduk di belakang lama-lama saya marah saya bilang ‘pak, apa Bapak yakin Ketika saya lahir di zaman bapak, bapak lebih berani dari saya?’ Gue gituin dan gue capek denger orang kayak begitu, zaman Pak Harto tuh banyak seperti itu.

Kalau bukan (angkatan) 45 ya 66, mereka mengklaimnya pahlawan. Prakteknya mereka semua otokrasi, otoriter, terus bangsa ini dijajah oleh bangsanya sendiri waktu itu yang mayoritas TNI AD. Karena Pak Harto (Seoharto) latar belakangnya TNI AD, jadi waktu itu gue merasa 66 bisa bisa terjadi seperti itu karena gak banyak ada media rekam.

6. Karena Anda muak dengan hal seperti itu, Anda memutuskan merekam aksi mahasiswa?

Jadi gue pikir kesempatan itu gua rekam aja lah. Di satu pihak kemana gue berada gue bisa dapetin footage. Di lain pihak hubungan gue dengan mahasiswa sebagai representatif ARD TV itu jalan. Jadi mereka tidak bingung melihat gue. Walau pun di belakang punggung gue dituduh CIA.

7. Bagaimana dengan nama Student Movement in Indonesia: They Forced Them To Be Violent itu?

Suatu saat ada istilah perang Romawi, saya pakai istilah itu di depan Polda Metro itu tiba-tiba hari itu mahasiswa turun dengan segala macam pagar dicopotin. Asli di depan Polda perang mereka berantem. Di situ baru dapat angle-nya. Mahasiswa digebuk dia melawan.

Makanya judul lengkapnya Student Movement in Indonesia: They Forced Them To Be Violent.Mereka tadinya mau gerakan damai, mereka ditekan akhirnya melawan. Dan makin kokoh film itu untuk menjadi sebuah film yang pro mahasiswa.

Baca Juga: 18 Mei 1998, Ketegangan Reformasi Mei Memuncak

Mengenang Tino Saroengallo (1958-2018): di Balik Dokumenter Mei '98

8. Anda kan jurnalis juga, mengapa hanya mengambil sudut pandang mahasiswa, tanpa pemerintah atau tentara?

Kalau kita buat news, kita emang ambil berbagai sisi minimal dua sisi yang membela dan menentang pemerintah. Sempat berpikir gitu juga. Sempat pikirin bikin profil tentara yang berminggu-minggu harus di DPR MPR, cuma mereka juga manusia, tapi mikir ‘Kenapa juga gue harus habisin waktu terus.

Akhirnya, malah bikin film, jadi lemah karena netralitas itu sendiri’. Sekarang film itu terasa kayak setan, hantam sana semua dan film itu dikritik habis karena tidak ada suara yang bela tentara atau bela pemerintah.

Saya bilang saya buat film untuk mahasiswa, bukan untuk tentara atau pemerintah. Kalau tentara atau pemerintah mau buat film, monggo silakan, buat sendiri. Bahkan, kalau ingat (salah satu) adegan (film) di Semanggi itu, itu sempat dipakai di pemilu, entah dimana, dibilang itu film rekayasa.

9. Dituduh rekayasa? Anda tidak mempermasalahkan?

Tapi gue bangga, gue orang film. Kalau dibilang itu rekayasa artinya apa? Artinya duit gue banyak banget dong karena production value-nya tinggi banget. Senjatanya senjata beneran tentaranya tentara beneran, tanknya tank beneran. Berarti production value-nya dahsyat dong. Kan gak mungkin itu, anak kecil aja tahu itu tidak mungkin.

10. Apa yang Anda lakukan dengan banyaknya rekaman film itu? Pernahkah Anda tidak mendapat gambar yang Anda inginkan?

Saya tidak tahu waktu itu mau buat angle apa. Gak tahu segala macam angle kita cari pokoknya, datang, syuting, datang, syuting. Kayak satu contoh kalau Anda ingat Marinir yang di jembatan Pancoran, terus ada keranda lewat depan kamera.

Sehari suntuk saya ikutin itu demo. Pulang saya maki-maki, gue gak dapet apa-apa hari ini. Kenapa? Gak ada chaos man’. Gue bilang gitu ke temen-temen, ‘Terus tapi ada gambar gak?’ ‘Ada keranda lewat, itu tolong dicatat tuh keranda. Itu mungkin bisa kita pakai suatu saat’. Jadi kadang-kadang dari satu demo one million dollars shot itu cuma sedikit.

11. Apa saja tekanan ketika Anda merekam aksi saat itu?

Mobil yang pernah gue pakai ada peluru di dalamnya, handphone selalu di tap (sadap), apa lagi yang namanya tekanan. Kemana-mana diikutin. Saya tetap ambil gambar karena saya tidak merasa mau berbuat salah.

12. Tidak ada yang yang tahu kalau apa yang Anda lakukan saat itu akan menjadi film yang begitu fenomenal?

Pada waktu itu orang gak tahu gue mau ngapain. Dipikirnya ‘Oh ini orang mau laporan demo’. Terus pada waktu itu siapa juga yang kepikiran bahwa film ini akan menjadi film satu-satunya tentang sebuah kejadian yang begitu besar di Republik ini, dan diliput oleh puluhan wartawan yang menjadi acuan yang dibuat oleh orang Indonesia, biar pun di luar negeri banyak film-film terkait. Tapi yang benar-benar film-film dokumenter bukan news coverage cuma ini.

loading...

Pokoknya, gue gak tahu (mau buat apa). Gue cuma meramu sebanyak mungkin apa yang gue punya itu yang akan gue masak, tapi gue yakin film ini akan menjadi sangat penting nantinya. Kita ngomong 10-20 tahun ke depan, ternyata lima tahun ke depan sudah dicari orang.

13. Film ini selesai dibuat 1999, tapi baru disiarkan di bioskop pada 2002. Kenapa bisa begitu lama tayang? Ada permasalahan editing?

Jadi film ini ketika mulai diedit, waktu itu gue lihat duit gue ada berapa kan? Udah tanggung zero balance. Zero Balance itu maksudnya duit di bank tinggal nol perak credit card gue mentok. Karena gak ada duit, gak ada biaya. Lalu tiba-tiba film ini jatuh ke orang yang punya duit dan concern, gue dipanggil, terus gue bilang ‘Boleh aja, boleh aja pak, film ini mesti disebarluaskan, dengan senang hati pak.

Tapi dengan satu syarat film dokumenter itu baru diakui sebagai film kalau dia main di commercial theater, kalau gak dia bukan film’. ‘Oke, itu gimana?’ Saya pulang saya hitung dulu saya cek ke 21 (bioskop). Total dananya, lupa saya, 50 ribu US dolar atau berapa. Dia kasih duit cash.

Gue itu semua biaya perjalanan masukin sana sini. Masukin ‘nyelendupin’ karena kita gak percaya ada reformasi. Sampai sekarang juga gak ada (reformasi), kecuali boleh ngomong itu doang. Hahaha… Jadi kita tetap was-was dan saya tetap terus dipantau segala macam, saya bisa bedain kok suara handphone yang di-tap, mana yang gak.

Jadi, akhirnya berhasil film diselundupkan. Proses itu jalan semua dibantu beberapa teman. Kita approach lembaga sensor, bukan uang ya, itu orang suka salah sangka. Tapi bagaimana kita meyakinkan mereka bahwa kita tidak berniat jelek.

Akhirnya, tidak dinyatakan boleh diloloskan kalau dipotong. Jadi Student Movement itu yang terdaftar resmi di FFI. Karena They Force Them To Be Violent itu harus dibuang, karena itu tendensius kan?

Baca juga: ‘1987: When the Day Comes’: Sarat Makna, Sejarah dan Air Mata

Mengenang Tino Saroengallo (1958-2018): di Balik Dokumenter Mei '98

Baca Juga: Gen Millennial, Yuk Kenali  Sosok 4 Pahlawan Reformasi Mei 1998

14. Anda setuju film itu dipotong agar bisa lolos sensor?

Itu ditanya, belum bisa lolos kalau itu dibuang, ‘Gue potong’, saya bilang temen yang ngurusin sensor. Dibilang ‘lu gila film lu mau potong?’ ‘Potong aja’. Terus ada dua atau tiga adegan lagi yang kepala ditendang itu yang seluruh dunia udah lihat, itu. Begitu kaki kena kepala itu dibuang. ‘Buang aja’ saya bilang.

Ketika Provos gebukin orang di Benhil buang-buang saya bilang ‘Lu gila ya lu tuh mau aja film lu disuruh potong dicincang, lu main potong aja’. Ya udah potong aja emang berapa detik semuanya yang dipotong akhirnya enam setengah detik. Karena semua yang diminta dipotong itu sudah tayang semua adegan dipotong itu sudah pernah tayang dalam news tahun 98.

15. Anda kecewa film Anda dipotong?

Semua orang ketika itu lupa, sebetulnya adegan yang mau yang sangat krusial adegan nyanyi-nyanyi di Semanggi itu gak pernah ada yang berani tayangin. Itu adegan yang menunjukkan arogansi tentara terhadap rakyat itu sendiri. Kan ada lagunya ‘Hari ini kami gembira’. Seakan-akan mereka menang perang melawan musuh, halus.

TNI itu musuhnya harusnya dari luar negeri bukan dari Indonesia atau kalau memang ada pemberontakan di Indonesia yang ingin mengganti Undang-Undang Dasar (UUD), yakin mereka malah gak gerak, ketika kita ngomong HTI sekarang.

Jelas-jelas kalau ngomong musuh, itu musuh, bukan mahasiswa. Kalau kita mau realistis teknik mau ngomong musuh Indonesia, yaitu HTI. Dia mau mengganti Undang-Undang Dasar kok, mau mengganti Pancasila, itu musuh, bukan mahasiswa. Musuhnya ada gak bergerak sekarang.

16. Film Anda ada di YouTube, itu yang versi sudah dipotong?

Tergantung yang mana. Kalau (judul) ‘Tragedi Jakarta’ itu sudah dipotong. Kalau judul yang lengkap, yang They Forced Them To Be Violent itu versi director. Film yang disebarkan di Jakarta itu film yang sudah lolos sensor.

17. Setelah sukses membuat film ini, pada 21 Mei 2013 Anda membuat lagi film dokumenter dengan judul “Setelah 15 Tahun…”. Kenapa membuat film itu?

Jelang 15 tahun (Orde Baru) tidak ada apa-apa, teman saya bilang ‘Film lu keluarin lagi aja Tin! Lu keluarin aja, kan banyak yang cari’. Ketika lagi ngomongin ngapain keluar lagi, bikin baru aja lah, wawancara orang-orang beberapa pelaku zaman itu, plus footage baru yang hilang.

18. Maksudnya ada footage yang hilang?

Film Gejayan kasus Gejayan Jogja yang terjadi sebelum reformasi, itu masih di Orba (Orde Baru). Yang matinya Moses kalau pernah denger. Footage itu hilang. Saya lacak kiri kanan ketemu sama yang masih punya. Ketemu temen yang punya, dia nanya ‘Buat apaan Bang?’ ‘Gue masukin film gue, nama lu gak ada, semua gak ada footage-nya gue sebut. Gak pakai duit, ya’.

Mengenang Tino Saroengallo (1958-2018): di Balik Dokumenter Mei '98

19. Anda bisa menemui orang-orang yang Anda wawancarai untuk film itu, bagaimana bisa menmukan orang yang terlibat aksi setelah 15 tahun pada waktu itu?

Ada faktor luck saya menemui orang yang saya wawancara. Saya lagi pergi ke tempat pameran temen saya. Lalu saya tanya ‘Ini foto muncul lagi, masih ada gak sih orangnya?’ ‘Masih, tunggu-tunggu’. Dipanggilin orangnya. Semua saya cari, ada yang dibantu temen-temen di Yogya, Makassar, Jakarta.

20. Kenapa film ‘Setelah 15 Tahun’ dan Pantja Sila: Realita dan Cita-cita tidak Anda unggah ke YouTube?

Karena ada maling (tanpa izin). Saya males. Kala film Student Movement memang gue relain dari awal. Yang itu gak. Negara aja minta film Pantja Sila gak gue kasih. Dibilang negara mau beli tapi dibilang mahal, saya bilang ‘Ya udah buat aja’.

Kalau buat kan gampang. Taruh kamera satu, gak perlu yang gede-gede, DSLR aja. Orang satu suruh berlagak jadi Bung Karno. Kan jadi film Pantja Sila, kenapa harus kejar-kejar film saya?

21. Lalu apa yang membuat Anda melahirkan film Panjta Sila?

Karena Tio (Pakusadewo). Film Pantja Sila itu idenya Tio, bukan saya. Tio datang, lalu ajak saya. ‘Oke gue buatin’. Setelah saya cek film itu, memang pidato itu clean dari vested interest(kepentingan tertentu).

22. Maksudnya vested interest itu?

Jadi kalau pidato itu terjadinya tahun 60-,an gue gak mau. Gue gak punya tenaga untuk riset, apakah statement-statement dia (Bung Karno) itu berkaitan dengan isu politik apa waktu itu.

Tapi 1 Juni 45 itu belum kemerdekaan. Jadi gak ada tuh vested interest. Pidato 1 Juni yang mau gue buat karena clean. Karena risikonya terlalu besar, buka kotak Pandora. Gue gak punya tenaga dan duit untuk riset.

23. Sejauh ini, Anda telah menjalani berbagai profesi. Apa pesan Anda untuk para pembaca, khususnya generasi millennials dalam menjalani hidup?

Hidup itu proses yang kita jalani kita bisa aja bercita-cita. Kebetulan saya tidak pernah punya cita-cita. Cuma saya punya keyakinan di titik manapun saya berada, apakah sebagai sales,jurnalis, fixer. Di dunia film sebagai produser, sebagai aktor, di tiap titik itu kita berusaha semaksimal mungkin.

Maksimal itu adalah ketika saya dulu pernah ditanya waktu lamar jadi wartawan ‘Lu punya apa?’ ‘Saya gak punya apa-apa’. Gue cuma punya 24 jam, selama 24 jam itu lah aku akan berusaha memenuhi tuntutan dari kerja. Kepuasan itu terjadi kalau ada apresiasi kerja.

Tapi jujur aja, apapun yang aku kerjakan, ya lu kejar itu, cuma nafkah lu. Tapi jangan hanya sekadar nafkah lu, tapi berusahalah semaksimal mungkin ketika lu mengerjakan nafkah lu.

Loading...

JANGAN LUPA DOWNLOAD APLIKASI PRIBUMI ONLINE VERSI ANDROID
SILAKAN KLIK GAMBAR DI BAWAH INI

Comments

comments

Related posts

Leave a Comment