Tidak Selamanya Ilmu Berbanding Lurus dengan Akhlak

Ibnu Qayyim Al-Jauzy dalam salah satu karyanya Kitab Al-Fawaid, halaman 155 berkata bahwasanya golongan manusia terbagi menjadi dua golongan. Golongan yang pertama adalah golongan yang semakin bertambah ilmunya semakin bertambah ketawadhu’annya. Pepatah mengatakan ibarat padi ia kian berisi kian merunduk. Semakin tinggi ilmunya, orang-orang ini semakin rendah hati bahkan tidak segan-segan dalam membagi ilmunya. Maka bersyukurlah jika kita termasuk di dalam golongan ini.

Golongan kedua adalah golongan yang semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula kesombongannya. Justru semakin alim ia semakin meremehkan orang lain serta merendahkan mereka. Golongan inilah yang harus dihindari oleh manusia. Imam Al Ghazali dalam karyanya Kitab Ihya’ Ulumuddin bahwasanya para penuntut ilmu hendaknya membersihkan jiwa kita dari akhlak tercela. Sebab menurut beliau bahwasanya ilmu merupakan ibadah dari kalbu dan salah satu bentuk pendekatan batin kepada Allah.

Rasulullah saw., bersabda: “Janganlah kamu mempelajari ilmu untuk tujuan berkompetisi dan menyaingi ulama, mengolok-olok orang yang bodoh dan mendapatkan simpati manusia. Barang siapa berbuat demikian, sungguh mereka kelak berada di neraka. (HR. Ibnu Majah). Maka sudah jelas bahwasanya ketika akan menuntut ilmu, maka niat ini harus kita luruskan. Tentu saja kita jauh lebih memilih akhirat sebagai orientasi dalam menuntut ilmu daripada memilih dunia yang sifatnya hanyalah fana dan sementara. Sementara akhirat bersifat kekal dan abadi, maka masihkah kita semua memilih dunia sebagai orientasi dalam menuntut ilmu?

Para kaum bijak pun pernah berkata, “Barangsiapa yang bertambah ilmunya, namun tidak bertambah hidayahnya, niscaya ia bukannya semakin dekat kepada Allah namun justru semakin jauh.” Imam Al-Ghazali pun pernah berkata bahwasanya “Jika Anda mengenal tingkatan ilmu dan mengetahui hakikat ilmu akhirat, niscaya Anda akan paham bahwa sebenarnya yang menyebabkan para ulama menyibukkan diri dengan ilmu bukan semata-mata karena mereka membutuhkan ilmu tersebut, namun dikarenakan mereka membutuhkan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah”. Selanjutnya beliau menjelaskan makna nasehat kaum bijak pandai bahwa ‘kami mempelajari ilmu bukan karena Allah, maka ilmu itu pun enggan kecuali harus diniatkan untuk Allah’, berarti bahwa “Ilmu itu tidak mau membuka hakekat dirinya pada kami, namun yang sampai kepada kami hanyalah lafaz-lafaznya dan definisinya”. (Ihya’ ‘Ulumuddin)

Melalui beberapa penjabaran di atas cukup jelas bahwa tingginya ilmu seseorang belum tentu menjamin bahwa akhlak kita akan sebaik dan setinggi ilmu yang kita miliki. Semua itu kembali kepada orientasi dan tujuan kita dalam menuntut ilmu. Bahwasanya ilmu yang semakin tinggi justru bisa saja sutu saat mencelakakan kita, sebab kita salah meniatkannya dalam menuntutnya.

loading...

Secara ringkas, Imam Al-Ghazali menekankan bahwasanya ilmu tanpa ibadah adalah junun (gila) sedangkan amal tanpa ilmu adalah takabbur (sombong). Yang dimaksud junun adalah berjuang berdasarkan tujuan yang salah. Sedangkan takabbur berarti ia tidak mempedulikan aturan dan kaidah perjuangan dalam menuntut ilmu, sekalipun tujuan kita benar. Kedua hal tersebut sama-sama bermuara kepada akhlak yang buruk. Maka karena itulah dalam pendidikan islam bahwsanya ilmu dan akhlak merupakan dimensi yang tidak bisa dipisahkan. Hal itu merupakan basis yang disebut dengan ta’dib yaitu proses pembentukan adab pada diri para penuntut ilmu. Sehingga dengan konsep seperti ini maka diharapkan lahirnya para cendekiawan muslim yang berakhlaqul karimah. (Ihya Ulumuddin)

Jika diurutkan maka dasar dari seorang muslim adalah ilmu, kemudian bagaimana ia mampu mengamalkannya, dan puncaknya adalah ihsan yang berarti ia menyertainya dengan akhlak yang baik. Rasulullah bersabda tentang makna Ihsan, bahwa “Ihsan itu adalah ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim)

Maka begitulah pentingnya ilmu. Ia harus disertai hidayah yang senantiasa mengawalnya. Sebab tanpa hidayah, seseorang semakin jauh dari Allah SWT dan menjadi sombong pribadinya. Sebaiknya seorang ahli ilmu yang mendapatkan hidayah, maka hubungannya kepada Allah SWT semakin dekat sehingga meraih maqom dan derajat di sisi-Nya serta keridhaan dari Allah SWT.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda , “Tiada masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan. kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR. Muslim). Kesombongan merupakan salah satu penyakit hati yang dapat merusak akhlak manusia. Bahkan saking bencinya Allah kepada hambanya yang sombong, Rasulullah pun bersabda bahwa tidak akan masuk surga orang yang sedikit pun ada kesombongan di dalam hatinya.

Maka beruntunglah bagi manusia yang tinggi ilmunya namun baik akhlaknya. Sebab ia dijanjikan oleh Allah SWT akan surga-Nya. Kita perlu belajar kepada Ali bin Abi Thalib. Bahwsanya beliau adalah sosok yang tinggi ilmunya, namun rendah hatinya. Maka tak salah jika beliau mendapatkan julukan Baabul Ilmi. Atau pintunya dari ilmu.

Sumber: https://www.dakwatuna.com/2015/03/25/66285/tidak-selamanya-ilmu-berbanding-lurus-dengan-akhlak/#ixzz5JvdqHhUP
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Loading...

JANGAN LUPA DOWNLOAD APLIKASI PRIBUMI ONLINE VERSI ANDROID
SILAKAN KLIK GAMBAR DI BAWAH INI

Comments

comments

Related posts

Leave a Comment