Akhlak Mujahid Dakwah

Mujahid berasal dari kata jaahada-yujaahidu-mujaahadatan, yang artinya seseorang yang berjuang di jalan Allah, mencurahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya serta memiliki cita-cita tinggi untuk menegakkan kebenaran. Baik itu di lingkungannya, keluarganya, termasuk bangsa dan negaranya. Jadi, mujahid memiliki tugas dan fungsi untuk meneruskan risalah Islamiyah.

Tugas dan tanggung jawab mujahid adalah menegakkan risalah Islamiyah, sederhananya adalah membimbing manusia supaya berada dalam jalan yang benar. Mujahid dakwah selain memiliki fungsi untuk meneruskan risalah, juga memiliki fungsi untuk menangani persoalan-persoalan yang ada di tengah-tengah Masyarakat. Manusia dalam menjalani kehidupannya tentu berbeda-beda, ada yang memilih jalan kebenaran dan ada juga yang salah bahkan ada yang berada ditengah-tengah jalan yang benar dan salah. Dalam menghadapi kehidupan ini dibutuhkan bimbingan yang serius, yaitu dari kalangan mujahid dakwah.

Mengingat memiliki tugas yang begitu berat dalam membimbing masyarakat supaya tetap berada dalam jalan yang lurus, maka yang harus pertama kali dimiliki oleh mujahid dakwah adalah teladan. Teladan dalam berdakwah akan muncul ketika dakwah dilandasi dengan landasan hanya karena Allah yaitu ikhlas. Maka Mujahid harus melandasi dakwahnya itu dengan kemurnian tujuan hanya kepada Allah. Setelah itu ia akan dimudahkan Allah untuk bisa menjadi teladan bagi yang lainnya. Sang mujahid dakwah harus menjadi orang yang terdepan dalam memberikan teladan yang baik dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat.

Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW merupakan rahmat bagi semesta alam. Oleh karena itu, mujahid dakwah juga harus mengemban tugas yang sama, yaitu mengajak, mendorong manusia supaya tetap berada dalam rahmat Allah atau berada dalam kebenaran.

Oleh karena itu, mujahid dakwah selain harus memiliki keteladanan, akhlak istiqamah, juga mesti tak bosan tak surut dalam bertaqarrub terhadap Allah SWT. Supaya bisa terus dijaga dan dijauhkan dari perkara-perkara atau perbuatan-perbuatan yang dibenci Allah.

Tidak sedikit masyarakat yang menggabungkan antara arti muballigh dan mujahid atau dai. Padahal antara dua golongan ini memiliki tugas dan fungsi yang berbeda. Mujahid yaitu orang yang menjadikan seluruh hidupnya untuk dakwah, di samping itu ia juga aktif dalam menghadapi persoalan keumatan yang ada di tengah-tengah masyarakat, meski tanpa dimintai bantuan. Muballigh adalah seseorang yang sesuai jadwal yang telah ditentukan dalam melaksanakan dakwah.

Meskipun begitu, kalau dilihat dari segi kewajiban sebenarnya setiap muslim (yang artinya orang yang taat), yang memasrahkan diri seluruhnya hanya untuk Allah, ia memiliki kewajiban untuk menjadi dai atau mujahid. Namun dalam posisi dan kemampuannya masing-masing. Seperti salah seorang pengajar atau guru. Guru yang benar-benar muslim akan sedemikian rupa berusaha mengaitkan bidang garapan pendidikannya dengan ajaran-ajaran Islam. Meski misalnya yang diajarkannya itu adalah sejarah, atau matematika. Maka yang demikian itu juga bisa disebut mujahid. Namun tetap ada bedanya dengan mujahid dalam arti khusus, yaitu segolongan orang yang mendalami dan konsisten dalam menekuni agama Islam dalam lembaga dakwah, bahkan sampai tidak ada usaha yang lain selain itu.

Dari uraian di atas, maka dapat dirumuskan bahwa akhlak atau sifat yang harus dimiliki oleh mujahid dakwah adalah:

1. Ikhlas

Seorang dai mesti memiliki perkara ini. Ia harus ikhlas semata-mata karena Allah dalam berdakwah. Ia tidak dikotori oleh riya, sanjungan atau pujian dari orang. Selayaknya dalam berdakwah adalah mengharapkan wajah Allah. Sebagaimana Allah berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah”. (Q.S Yusuf: 108 )

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang- orang yang menyerah diri?” (Q.S Fushilat: 33)

Maka wajiblah untuk memurnikan landasan utama dalam berdakwah hanya kepada Allah. Inilah merupakan akhlak terpenting yang harus dimiliki oleh sang mujahid dakwah. Inilah juga merupakan seagung-agung sifat yang harus ada dalam langkah dakwah kita, yaitu bahwa kita hanya mengharap atau menginginkan wajah Allah atau darul akhirah.

2. Berdakwah Itu dengan Ilmu

Selayaknya dalam berdakwah adalah memiliki hujjah yang jelas, yaitu berdakwah dengan ilmu. Kita tidak boleh jahil terhadap apa yang kita dakwahkan. Sebagaimana dalam firman Allah;

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata,” (Q.S Yusuf: 108 )

Dari ayat itu, jelaslah dalam berdakwah harus dengan hujjah yang jelas. Yaitu berdakwah berlandaskan ilmu bukan kejahilan. Kita tidak boleh berbicara tentang apa yang tidak kita tahu, karena jahil itu malah meruntuhkan bukan membangun. Jahil itu malah merusak bukan membereskan. Berhati-hatilah, jangan sampai berkata ini adalah perintah Allah, ini adalah ajaran Allah, padahal tidak sama sekali dari Allah. Maka janganlah kita berbicara sesuatu, menyampaikan sesuatu setelah kita berilmu tentang sesuatu itu. Al-Bashirah, dalam mu’jam mufradat fi alfadzil Quran adalah al-ma’rifah wa tahaqquq yaitu pengetahuan dan kepastian, maksudnya adalah dengan hujjah yang jelas, seperti itulah Allah memerintahkan untuk berdakwah.

Oleh karena itu, bagi para pencari ilmu dan para dai mesti memperhatikan apa yang ia dakwahkan, memperhatikan tentang hujjah atau dalil-dalilnya, jika sudah jelas ia ketahui bahwa itu haq (benar) maka berdakwahlah. Berdakwah, baik itu supaya meninggalkan dan melaksanakan. Mendakwahkan untuk melaksanakan jika itu berkaitan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mendakwahkan untuk meninggalkan jika itu berkaitan dengan apa yang dilarang Allah dan rasul-Nya, dan tentu berdasarkan hujjah atau dalil-dalil yang jelas.

3. Memiliki Sikap yang Istiqamah

Mujahid dakwah baru bisa disebut sukses kalau bisa mempertahankan keyakinannya yang selaras dengan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. Ia tidak terpengaruhi oleh ajakan-ajakan atau bisikan-bisikan yang tidak jelas datangnya dari luar.

4. Memiliki Waktu yang Banyak untuk Mendekatkan Dirinya Kepada Allah SWT

loading...

Rasulullah, sang mujahid dakwah teladan di Dunia, ia ternyata tidak malah jauh terhadap Allah. Meski beliau sudah dijamin segalanya oleh Allah, akan tetapi beliau dalam beristighfar kepada Allah tidak kurang dari seratus kali setiap harinya. Bagaimana seharusnya dengan kita yang tidak seshalih Rasulullah? Maka sebagai mujahid dakwah harus meluangkan waktu yang banyak untuk mendekatkan dirinya kepada Allah SWT.

5. Memberikan Teladan yang Baik

Sebab dengan keteladanan yang baiklah orang akan mudah diajak dan didakwahi. Teladan itu akan mudah ditiru dan diikuti oleh masyarakat.

Sekarang, dakwah itu terlihat tidak membawa hasil yang sesuai harapan, sebabnya adalah gagal dalam memberikan keteladanan atau diri para dai yang miskin dari keteladanan yang bisa dicontoh oleh masyarakatnya.

6. Santun Dalam Berdakwah

Perkara selanjutnya dalam berdakwah yaitu berbicara tentang kesantunan. Berdakwah mesti dengan disertai sikap yang santun, ramah dan sabar sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Janganlah bersikap terburu-buru, jangan pula bersikap kejam dan keras akan tetapi harus bersikap sabar, santun dan ramah dalam berdakwah. Seperti firman Allah:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: 125)

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (Al-Imran: 159)

Firman Allah ketika mengisahkan tentang Nabi Musa dan Harun.

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Q.S Thaha: 44)

Dalam Hadits Shahih Rasulullah SAW bersabda:

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

“Ya Allah, sesiapa yang menguruskan hal-ihwal umatku, lalu dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia, dan sesiapa yang menguruskan hal-ihwal umatku, lalu dia mengasihi mereka, maka kasihilah dia.” (Hadits Riwayat Muslim, Shahih Muslim, 9/351, no. 3407)

Dari keterangan-keterangan di atas, jelaslah bahwa kita harus berlaku baik, berkata-kata santun yang tidak menyakiti mad’u (objek dakwah), ramah dan sehingga tidak membuat mad’u malah lari dari agama. Dalam riwayat Al-Bukhari rasul memperingatkan; Yassiru walaa tu’assiruu, permudahlah dan janganlah membuat mereka lari.

Dengan keremahan dan kesabaran yang ditempuh dalam berdakwah, insya Allah akan berdampak pada hati yang didakwahi. Sebaliknya dengan cara yang kasar dan keras maka akan membuat orang lari, bukannya mendekat, dan membuat terpecah bukan bersatu.

Selain itu, mujahid dakwah juga mesti memiliki keberanian dalam menegakkan kebenaran yang disertai dengan akhlak mulia selaras dengan Al-Quran yaitu qaulan sadiidan (tutur kata yang benar) ketika berhadapan dengan lawan dakwahnya. Mujahid dakwah tidak akan memiliki sikap yang temperamen, sedikit-sedikit emosi karena dihadapkan dengan permasalahan yang ada, tapi tetap memiliki sikap yang tegas, tegar dan tepat ketika menyampaikan keyakinan dan kebenaran.

Di antara akhlak-akhlak dan sifat-sifat yang mesti dimiliki oleh sang mujahid dakwah tadi, hal perlu diperhatikan juga adalah mengamalkan atas apa yang ia dakwahkan. Ia menjadi qudwah (teladan) yang baik terhadap apa yang ia dakwahkan. Bukan mendakwahkan tentang perkara yang justru ia tak kerjakan, atau mendakwahkan untuk melarang sesuatu namun ia malah kerjakan. Jika seperti itu, maka mereka itu termasuk orang-orang yang merugi. Na’udzubillah min dzalik.

Adapun orang-orang beruntung, mereka itulah para penyeru kebenaran, mereka mengetahui dengan landasan ilmu dan mengamalkan apa yang harus diamalkan dan meninggalkan apa yang harus ditinggalkan. Sebagaimana Firman Allah:

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ} {كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ}

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? – Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (Q.S As-Shaf: 2-3)

{أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ}

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (Al-Baqarah: 44)

Terakhir, bahwa Mujahid dakwah, di manapun dan bagaimanapun keadaannya, insya Allah akan berada dalam pertolongan Allah. Jangan memiliki sikap yang epes meer (baca: Sunda) ketika menghadapi berbagai persoalan. Ia akan disukai dan diharapkan oleh masyarakat. Kalau ternyata ada orang yang kurang hormat terhadap dirinya maka yang pertama ditanya dan disalahkan itu adalah dirinya, bukan orang lain. Haasibuu qobla an tuhaasabuu. Apa salah saya, kenapa sikapnya seperti itu. Inilah sikap bijak yang harus dikedepankan, yaitu menghisab diri sendiri sebelum kita menghisab orang lain.

Wallahu a’lam.

Referensi:

  • Mu’jam mufradat fi Alfadzil Quran
  • Majalah Bina Dakwah no-306 Rajab-Sya’ban 1426 / September 2015
  • Tafsir ibnu Katsir
  • shamela, Adda’wah ilallah wa Akhlaqudda’wah

(dakwatuna.com/hdn)

Sumber: https://www.dakwatuna.com/2016/04/04/79851/akhlak-mujahid-dakwah/#ixzz5Jvat2iJr
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Loading...

JANGAN LUPA DOWNLOAD APLIKASI PRIBUMI ONLINE VERSI ANDROID
SILAKAN KLIK GAMBAR DI BAWAH INI

Comments

comments

Related posts

Leave a Comment